Delapan
Kamu selalu hilang pada puncak hujan. Bagian ini aku selalu tak terlalu paham, walau sudah merangkak dua tahun. Tahun lalu, menjelang menutup buku meski belum begitu akhir. Kamu dengan begitu percaya dirinya bertanya sebab bertopeng; Halaman berapa jurang paling dalammu? Meski aku tahu dibalik topeng itu adalah kamu, aku berusaha menjawab dengan bercanda meski serius. Pada halaman 200-an. Aku tak yakin kamu memahami maksudku, karena hadirmu seperti hujan, baik pada tahun ini maupun pada tahun lalu. Kala hujanmu yang pertama dengan rintik-rintik, kamu bertanya; Apa itu aku pada halaman 200-an? Aku tertawa, karena kamu begitu yakin akan pentingnya hadirmu dalam hidupku. Padahal, sudah kutegaskan bahwa kamu adalah hujan. Aku merindu, namun tak ingin kebasahan. Kujawab bukan, karena saat itu hatiku pilu akan jahatnya dunia dan seisinya padaku. Kamu bertanya sekali lagi, tak yakin. Namun kujawab dengan perihal yang sama. — Puncak hujan tahun ini, kamu memutuskan untuk menghilang lagi. Entah...