Enam
Hei, apa kabar kamu? Kataku beberapa kali dalam ruang senyap. Acapkali kenangan-kenangan kita berdua menelisik dalam tiap gerakan. Pun afeksi dalam sanjungan yang sering tak sengaja keluar dari segaris senyummu. Atau bahkan telingamu yang selalu siap untuk mendengar celotehku yang tidak pernah penting. "Sedikit lagi aku dibuat gila olehmu, Puan," katanya suatu ketika. Aku diam, tak berani menjawab. "Sudahkah kamu mencintaiku, Puan?" katanya lagi. Dan aku masih diam. Seringnya aku dengar wanita-wanita itu mengatakan, "Aku mencintainya karena dia yang pertama memperlakukan aku seperti ini," lantas aku tertawa. Beberapa kalinya mencibir. Berbaliklah perkataan itu pada beberapa logikaku. Aku tak percaya karma, tapi pengembalian perlakuan itu benar adanya. "Sudahkah kamu mencintaiku, Puan?" tegasnya lagi membuyarkan lamunanku. Ia melepaskan topi dan ditaruhnya di depan donat-donat berdandan itu. Badannya yang tinggi, tegap, dan hitam, sedikit membun...