Enam

 Hei, apa kabar kamu?

Kataku beberapa kali dalam ruang senyap. Acapkali kenangan-kenangan kita berdua menelisik dalam tiap gerakan. Pun afeksi dalam sanjungan yang sering tak sengaja keluar dari segaris senyummu. Atau bahkan telingamu yang selalu siap untuk mendengar celotehku yang tidak pernah penting.


"Sedikit lagi aku dibuat gila olehmu, Puan," katanya suatu ketika. Aku diam, tak berani menjawab.

"Sudahkah kamu mencintaiku, Puan?" katanya lagi. Dan aku masih diam. 


Seringnya aku dengar wanita-wanita itu mengatakan, "Aku mencintainya karena dia yang pertama memperlakukan aku seperti ini," lantas aku tertawa. Beberapa kalinya mencibir. Berbaliklah perkataan itu pada beberapa logikaku. Aku tak percaya karma, tapi pengembalian perlakuan itu benar adanya.


"Sudahkah kamu mencintaiku, Puan?" tegasnya lagi membuyarkan lamunanku. Ia melepaskan topi dan ditaruhnya di depan donat-donat berdandan itu. Badannya yang tinggi, tegap, dan hitam, sedikit membungkuk dan mendekat, berusaha membaca mataku.

Tiba-tiba ia kembali bersandar sambil mengibas tangannya, "Ah, jangan. Jangan cintai aku." 

"Kenapa?" tanyaku kemudian.

Dia menghela nafas berat. Hening beberapa saat menyelimuti kami berdua. Agaknya enggan sekali dia menjawab. Tapi aku tak mau memaksa sebab kupikir jawabannya sudah terlihat dari keadaan itu.

Kulihat ia akhirnya membuka mulut ragu, "Nanti aku merasa bersalah," lirih ia menjawab sambil menunduk. Tak berani memandangku. Aku tersenyum, memahami bahwa percakapan ini tiada ihwalnya. 


"Aku ingin kamu masuk dalam duniaku," dia menyeruput kopi campuran itu dengan cepat, "Kamu tahu?" lanjutnya.

Aku mengangguk. Kulihat sekilas baju hitamnya bertuliskan merek terkenal. Kali ini berbeda, ia tidak mengenakan topi.

"Aku baru sadar, aku sudah jatuh terlalu dalam." 

Aku tergelak, sedikit tidak dapat memahami situasi yang tiba-tiba, "Kamu mengenalku berapa lama?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku serius," suaranya mulai sumbang diiringi dengan tawaku. Kondisi yang kontras, namun dia kembali melanjutkan.

"Makanya, jangan pergi tiba-tiba. Aku tidak siap."


Eulogi ini akan berakhir. Sebenarnya, aku baru paham bahwa kamulah yang mengkhianati percakapan terakhir itu. Lantas kenangan lainnya datang lagi dan pertanyaan tak penting itu terus saja bergaung.


"Sudahkah kamu mencintaiku, Puan?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga

Delapan

Tujuh