Tujuh
"Orang-orang itu selalu salah persepsi," kataku suatu ketika.
"Bukannya kamu yang terlalu ambigu dalam
merespon semuanya? Manusia, kan, bukan tercipta dari kode morse," dia
membalas sambil bersungut, menatapku tak mengerti.
"Lantas aku harus bagaimana?" tanyaku
kemudian.
"Bilang iya jika iya, dan bilang tidak jika
tidak. Lihat? Seperti sekarang. Aku bilang lapar, maka kita makan," ia
menunjuk sisa separuh nasi yang dimakannya, kemudian mengedikkan bahu,
"yah, tapi manusia beragam, sih, karaktermu memang begitu. Ah, tapi aku
kesal sekali! Kamu itu terlalu polos, ramah sama semua orang. Belum lagi kamu
sungkanan. Untuk orang seperti aku yang sudah kenal kamu tidak setahun dua
tahun, aku paham niatmu. Tapi kalau mereka baru bertemu denganmu sehari? Atau
bahkan sejam? Kamu pikir dunia ini dihuni orang-orang berhusnudzan semua?"
Aku tergelak, "Okey, baiklah. Kenapa kamu
jadi marah-marah, sih?"
Lagi-lagi ia mengedikkan bahu, "Terbawa
suasana saja. Intinya, aku tidak sedang menceramahimu. Kamu tahu, kan, aku
benci sekali mendengar orang lain membicarakanmu? Jadi, yang kubilang tadi demi
kebaikanmu juga. Aku bilang begini karena aku tahu kamu bukan orang yang
seperti itu, kamu orang baik," aku mendadak tertegun mendengar kalimat
terakhir yang diucapkannya.
Refleks aku mencondongkan badanku ke depan, melihat garis-garis kehidupan yang ada pada wajah sahabatku itu, "Jadi aku orang baik, nih?" tanyaku
menggodanya. Tanpa menatapku, ia mengangguk sambil meneruskan melahap makanan
di depannya. Melihat cara makannya, sepertinya dia memang lapar sekali.
"Aku tahu kamu ingin hidup sesuai prinsipmu
yang kuat itu. Tapi jangan sampai lupa kalau kita ini makhluk sosial." ia
berbicara sambil berdiri. Tangannya memberi isyarat untuk meminta izin mencuci
tangan. Aku mengangguk.
"Jadi, maksudmu aku tidak punya sisi
humanis?" tanyaku saat ia kembali ke kursi di depanku. Tuniknya menjuntai,
serasi dengan tinggi badannya.
"Bukan itu maksudku. Kamu orang yang
memiliki empati tinggi. Itu bagus, tapi kamu tahu, kan, kalau keterusan
hasilnya seperti apa?"
"Seperti apa?" aku tak mengerti. Tapi
aku tak ingin menyanggah penilaiannya tentangku karena ia terlihat serius.
Komentar
Posting Komentar