BULLSHIT:Percayalah akan ada orang yang tetap tinggal, meskipun...
Baiklah, kamu boleh percaya pernyataan itu, maka orang yang tetap tinggal denganmu adalah orang yang bodoh. Menerima seseorang apa adanya itu perlu, tapi juga tetap memiliki batasan-batasannya. Bukan berarti saya mengatakan ini karena 'menerima apa adanya' menjadi kontra, kita harus 'menerima apa adanya dengan tapi'.
Jika kita tetap berlindung pada pernyataan ini (judul), maka kita akan mendapat orang yang menerima kekurangan kita, semuanya, tanpa perubahan. Mungkin akan menemukan, dan kita harus bersiap membuatnya menangis. Jangan percaya dengan kebullshitan pernyataan itu, pernyataan itu hanya untuk orang-orang yang ingin membenarkan dirinya. Jika memang ada orang yang meninggalkanmu, pergi, dan tidak mau tinggal karena mengetahui kekuranganmu (mengesampingkan faktor fisik, finansial dan hal-hal kasat mata lainnya) maka wajib untuk kita bermuhasabah. Apa yang membuat dia pergi? Apa yang membuat dia tidak ingin tinggal? Maka akan kita temukan jawaban. Setelah itu, kita tidak perlu mengatakan itu sebagai pembenaran diri, karena kita sudah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dengan sifat-sifat yang lebih positif.
Pernyataan kedua yang hampir serupa,
"Yaa gimana, orang udah sifatku kayak gini"
Saya 85% tidak setuju dengan pernyataan ini.
Mengapa?
Karena manusia mematok ukuran nilai dirinya dengan sifatnya. "Kalau kamu suka sifatku, maka menetaplah. Kalau tidak suka, maka pergilah."
Hey dude, ayolah. Kita tidak hidup individu. Kita butuh teman. Kita adalah makhluk sosial. Kerapkali saya mendengar pernyataan ini sampai membuat saya benar-benar bosan. Jadi, apakah menurut saya sifat bisa diubah? Kalau orang-orang mengatakan sifat bawaan tidak bisa diubah maka saya tidak setuju, tapi tidak sepenuhnya. Contohnya seperti ini, X mempunyai gaya bicara yang suka ngegas, ngotot dan keliatan seperti emosinya ingin keluar merangkak satu persatu padahal sebenarnya X sedang berbicara santai dengan gayanya sendiri. Kemudian temannya mengatakan, "ya biasa aja kalo ngomong, ga usah ngegas." Dan X menjawab, "ya udah biasa ini, aku kalo ngomong ya begini."
Itu semacam X secara implisit mengatakan 11 12 dengan pernyataan yang saya sebutkan kedua. Apakah gaya bicara masuk sifat? Tentu saja. Segala sesuatu yg ghaib tentang kita adalah sifat. Tidak bisa diubah, kan? Hmm, yakin? Lantas ketika kita mengetok palu dan memutuskan sifat itu tidak bisa diubah, maka selamanya sifat jelek yang ada pada diri kita tidak bisa diubah.
Saya adalah korban dari putusan yang saya buat sendiri. Banyak sekali sifat-sifat jelek yang mengakar dalam diri saya. Tidak perlu saya sebutkan karena itu aib. Ehe. Jadi, bisa dibilang tulisan ini adalah sejenis nasihat untuk diri saya sendiri.
Kemudian, saya sadar setelah bertemu beberapa teman yang memutuskan 90° mengubah hidupnya, tidak sepenuhnya memang, tapi sukses membuat saya heran dengan perubahan mereka. Hal itu yang membuat saya berpikir kembali.
Yang salah adalah pemikiran orang-orang seperti kita yang mengatakan "sifatku udah gini, ya gabisa diubah. Orang udah sifat dari sononya".
Eits, sebentar. Apa ini membicarakan fisik? "Eh idungmu kok gitu si, eh matamu kok satunya warna coklat, eh kamu kok ga punya alis" dan kata-kata julid lainnya baru kita boleh menjawab "ya gimana, orang ini udah dari sononya."
Mungkin, kamu yang membaca ini tidak akan pernah setuju dengan saya, tapi percayalah sampai kapanpun kalau kita tinggal dalam pemikiran yang seperti itu maka kita akan selamanya seperti itu. Kalau kita merasa bahwa sifat kita jelek, tidak baik untuk orang lain, tidak baik untuk cara bersosialisasi, maka kubur. Bukan berarti mengubah (kalau memang kamu tidak setuju dengan status ini, pun dengan saya). Kubur yang dalam, 199999 km ke dasar hatimu kalau perlu agar kamu lupa dan besok-besok mengatakan "iya ya, padahal aku dulu orangnya gini, kok sekarang jadi gini ya."
Karena sejujurnya, sifat apapun yang ada pada diri kita itu bisa diubah. Tinggal kita, punya niat atau tidak untuk mengubah itu semua.
Cukup wajah jelek kita saja yang tidak bisa diubah, sifat jangan. Wkw bercanda. 🙆🏿
Ah seharusnya post ini saya up ketika hari raya idul Adha kemarin, agar orang-orang macam saya yang tidak bisa berqurban kiranya dapat berqurban sifat kebinatangan untuk setan. Hehehe peace! 🙌🏿
Kalau begitu, sekarang saja waktunya, merdekakanlah sifat itu, dia sudah ingin lepas. Btw, SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIAKU!! ❤
Jadi bagaimana? Ingin tetap memelihara sifat kebinatangan kita atau memerdekakannya?

Komentar
Posting Komentar