Mengapa Gaji Guru Kecil?
Pertanyaan yang selalu terngiang di benak fresh graduate, termasuk saya. Bahkan beberapa kali berpikir dan menyesal dahulu, mengapa mengambil jurusan pendidikan. Saya suka mengajar, saya suka bertemu dengan anak-anak namun salah satu 'manusia' dalam diri saya selalu mengatakan "kamu yakin mengajar dengan upah tidak sampai satu juta?"
Tidak bisa dipungkiri, saya juga butuh duit. Saya harus makan, uang bensin, juga memberikan sedikit gaji untuk keperluan sehari-hari di rumah bersama keluarga.
Ikhlas, pasti. Tentu saja. Saya mencintai profesi guru. Pernah merasakan rasanya mencintai sesuatu tapi bersamaan dengan itu juga membencinya? Saya merasa seperti itu, tidak tahu kalian.
Saya beberapa kali berpikir, usaha guru mencerdaskan bangsa tidak sepadan dengan apapun, upah yang didapat, pun timbal balik yang diterima. Pernah beberapa kali menemukan artikel tentang guru-guru yang mendekam di balik jeruji besi hanya karena menghukum muridnya yang bersalah, atau 'tidak sengaja' meninggal hanya karena bertengkar dengan murid yang sudah pasti itu adalah salah murid sendiri, bahkan ada beberapa berita yang saya temukan petugas kebersihan dirundung ramai-ramai oleh siswa, sehingga membuat saya banyak berpikir. Banyak sekali. Namun tidak satupun hasil yang bisa saya temukan.
Mengapa gaji guru kecil? Malah lebih besar buruh bangunan yang terkesan 'kasar' di mata masyarakat. Memang kualifikasi tidak ditentukan dengan ketat, namun guru berusaha menjembatani generasi muda dengan dunia pendidikan. Saya yakin, tidak ada guru yang berusaha membuat sesat terhadap teori-teori yang diajarkan untuk siswanya. Saya menulis ini bukan karena saya mencintai uang, tapi karena saya sedikit tidak menyukai sistem pendidikan di Indonesia.
Tahun 2018 yang lalu, saya pergi ke Thailand untuk kepentingan magang, mengajar di salah satu sekolah swasta. Saya bertanya kepada salah satu guru, bagaimana pandangan murid terhadap guru. Guru tersebut mengatakan, "Guru adalah profesi yang paling disegani di negara ini. Pemerintah juga sangat menghormati guru karena 'dampak' profesi mereka sangat besar." Kemudian di waktu berikutnya saya menemukan artikel, bahwa pemerintah Thailand memberikan gaji yang besar untuk guru agar siswa lebih bersemangat dalam melanjutkan titel 'maha'siswa.
Seharusnya di negara kita, jika memang belum mampu dalam membayar guru dengan sesuai, setidaknya guru menjadi orang paling terhormat setelah orang tua bagi setiap siswa. Saya rasa, dengan itu guru jadi lebih bersemangat dalam mengajar dan mendidik.
Namun, beberapa waktu kemudian saya menengok pada keadaan sekitar. Selain guru di bawah kepemerintahan (yang gajinya juga apa adanya), ada guru honorer yang mana digaji oleh kepala sekolah melalui SPP, bahkan bisa saja dari dana BOS. Memang sesuai, karena pengangkatan profesi yang tidak resmi (bukan oleh pemerintah). Toh bagi masyarakat umum, jika disesuaikan dengan kebutuhan sekunder, guru tidak lebih penting daripada itu. Orang tua gampang mengeluh ketika SPP ditingkatkan, padahal untuk membelikan anaknya gadget bernilai jutaan rupiah saja dengan senang hati. Orang tua marah ketika edaran surat memberitahu nominal total pembelian buku-buku untuk satu tahun, padahal orang tua dengan senang hati membelikan barang-barang yang tidak perlu untuk anaknya. Bagaimana cara menggaji guru honorer apabila orang tua saja tidak ikhlas mengeluarkan banyak biaya untuk pendidikan anaknya?
Lantas, siapa yang salah? Jawabannya tidak ada. Ini hubungan sebab-akibat. Kembali pada diri masing-masing, adab, cara menghargai, cara berterimakasih yang dicoveri oleh attitude yang baik harusnya selalu dijunjung tinggi.
Seyogyanya, manusia butuh uang untuk bertahan hidup, butuh penghargaan atas perjuangan yang telah diberikan, itu manusiawi sekali, sungguh. Namun, dari sisi manapun kita tetap harus menjadi pribadi yang berpikir positif. Ada yang mengajar karena hobi, ada yang mengajar karena memang itu adalah profesinya.
Jadi, bagaimana, mahasiswa Pendidikan? Lebih memilih kerja di kantor, buruh pabrik, buruh bangunan atau menjadi seorang guru?
*sumber gambar tidak berhubungan dengan tulisan

Jujur saja saya memilih kuliah pendidikan karena guru merupakan profesi yang hebat, namun saya agak bimbang mengetahui gaji nya yg tidak seberapa. sempat terlintas di benak saya, "apa nanti saat saya lulus, saya ganti profesi saja, saya tidak mau jadi guru"
BalasHapustapi terlepas dari itu, saya biarkan saja hidup saya mengalir seperti air, apa yang terjadi besok akan saya lakukan, terlebih ibu saya mendukung kuat agar saya menjadi guru.