Antara Emansipasi dan Menjadi Istri

 

Sumber: id.wikipedia.org


Sebenarnya, saya tidak ingin membahas perihal-perihal seperti ini, tentang cinta, atau lebih singkatnya hubungan romantisme. Karena ada yang request, ini termasuk bagus untuk dikatakan. Barangkali, ini hanya sekadar iklan bagi siapa saja yang membaca. Saya bukan ustadzah, apalagi bu Nyai, tidak bisa memberikan dalil yang tepat tentang topik kali ini. Tapi, patutlah saya memberikan komentar ringan dan receh karena saya juga perempuan.

Suatu kewajiban istri untuk selalu berbakti kepada suami, asalkan suami tidak menyuruhnya masuk ke sumur atau hal-hal yang tidak baik lainnya. Ada yang mengatakan "istriku tidak boleh keluar rumah, karena ia adalah madrasah pertama untuk anak-anakku". Tentu saja, tidak pernah salah pernyataan ini. Sebagai seorang Ibu, patut untuk memberikan hak penuh kepada anak-anaknya. Patut memberikan pelajaran dan pengalaman terbaik untuk anak-anaknya. Asalkan suami mampu memberikan nafkah lahir bathin pada si istri dan anak-anaknya. Kalau saya? Tentu saja mau, hahaha. Menjadi ibu rumah tangga dan selalu menemani anaknya, tanpa harus bersusah payah namun sudah ada yang memberi nafkah. Why not? Istri bisa fokus pada pekerjaan rumah dan suami bisa fokus pada pekerjaannya. Toh, di rumah perempuan masih bisa membuka usaha, online shop, atau membuka toko contohnya.

But, cmon. Tidak semua perempuan senang terus-terusan berada di rumah. Banyak yang boring dengan pekerjaan yang 'itu-itu' melulu. Maksud saya, hanya masak, nyapu, ngepel atau yang lain. Banyak yang lebih suka mencari pengalaman atas hal-hal yang baru. Lantas kalau anak sudah mulai sekolah, perempuan juga akan sendirian di rumah. Bagi saya, semua itu ada masanya. Orang tua memang selalu dibutuhkan, tapi tidak 24 jam penuh ketika anak sudah mulai dewasa. Ada saatnya anak-anak keluar rumah, pun sama orang tua, Ibu dan Ayahnya. Laki-laki boleh menuntut haknya, tapi laki-laki juga harus paham perasaan perempuan. Ada banyak perempuan yang lebih menyukai "Aku dapat duit dari usahaku sendiri".

Lelaki boleh saja mengatakan, "Jangan bekerja, kerja itu berat, biar aku saja." ala-ala Dilan yang pernah booming dengan film dan tamannya. Tapi coba pahami dulu perasaan si perempuannya, tanyakan lebih suka yang bagaimana. Toh apa salahnya istri bekerja? Asal tidak melebihi batasan yang diinginkan sang suami dan tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Dengar, lelaki tidak selamanya sehat. Bukan bermaksud mendoakan, tapi umur dan kesehatan tidak ada orang yang tahu. Barangkali hari ini mengatakan aku sehat aku kuat, eh ternyata besoknya sakit tak bisa bangun. Lalu yang kelimpungan siapa? Istrinya. Apalagi jika istrinya tidak pernah bekerja dan anaknya masih kecil. Jangan pernah berpikir masa sekarang saja. Kita patut memikirkan masa depan juga. Ayolah, zaman sekarang banyak pekerjaan parttime atau menjadi entrepreneur, kan?


*Btw, ini adalah pos yang seharusnya sudah lama dipublikasikan, namun terkendala waktu dan kesempatan, baca:malas, so sorry hehe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga

Delapan

Tujuh