Dua
Kamu bahkan tahu menunggu adalah hal membosankan. Kamu sering mengeluh dan memaki pada menunggu. Sedangkan saya, menginjak belasan seringkali sepertimu, memaki sebelum akhirnya terbiasa. Ternyata menunggu itu semenyenangkan itu, bagi kaum minoritas seperti saya. Tidak terasa jika punya beberapa kesibukan.
Beberapa kali batin ingin sekali mengatakan dengan penuh kesombongan, kamu tidak akan pernah menemukan manusia yang suka menunggu seperti saya. Bahkan, setelah teriris berkali-kali. Telah berapa lama dan kali saya menunggu? Setiap tatap muka menjadi abu dibasahi rintik sedu menunggu. Saya tak bisa memaki, sebab terkadang makian itu sendiri lumpuh dengan satu garis lengkung.
Kamu sering mengeluh dan memaki pada menunggu. Sedang kata itu diciptakan olehmu untuk saya. Kamu sering mengeluh dan memaki pada menunggu. Sedang kata itu mengunci saya rapat-rapat.
Lantas, setelah kesombongan saya. Tidak. Kamu tidak akan pernah menemukan manusia yang tidak suka menunggu seperti saya. Bahkan, setelah teriris berkali-kali. Telah berapa lama dan kali saya menunggu? Setiap tatap muka menjadi abu dibasahi rintik sedu menunggu.
Komentar
Posting Komentar