Rokok dan Pengendara
Sebenarnya, saya tidak menyukai orang yang merokok, tapi juga tidak membencinya.
Tadi sore, saya berangkat ke suatu tempat rutinitas.
Kemudian saya berada di belakang sebuah sepeda motor, bapak paruh baya dengan istri dan satu anaknya di tengah.
Bapak itu memegang rokok di tangan kiri. Sesekali menghisap rokoknya. Saya yang di belakang awalnya tidak mengeluh. Lantas kena baju saya (ketika saya cek di tempat tujuan, baju saya berlubang kecil-kecil). Saya jengkel sekali bapaknya merokok dengan abu beterbangan seperti saya sedang berada di kawasan waspada gunung berapi, akhirnya saya ngebut, berusaha mendahului si bapak. Sialnya, depan saya mobil pick up dengan asap mengepul yang keluar dari knalpotnya. Kemudian saya berpikir, "ah, ini lebih baik daripada kena asap rokok." ... Tapi sialnya lagi, dobel sial samping pak supir mobil pick up memegang rokok dan tangannya bersandar pada pintu mobil sebelah kiri.
Triple kill, karena pick up tersebut jalannya lambat, bapak satu anak dan istri yang saya dahului tadi berbalik mendahului saya. Mata saya kena abu rokok oleh yang saya tidak tahu siapa astaga dua orang merokok depan saya huhu (yang untungnya tidak berwarna kuning menyala, alhamdulillah dan naudzubillah deh jangan sampai). Barangkali saya salah, tidak menggunakan helm dengan baik, menutup kacanya. Tapi, plis deh ga gitu juga cara mainnya heeey
Untung yg ini kagak perih, pernah suatu ketika pengalaman begini juga di masa lalu, mata saya sampai perih sekali rasanya, sebelum menepi untuk menyehatkan kembali mata saya, saya mencoba menegur si bapak yang seenak udel ngudut di jalan, yang mana angin sliwer-sliwer loh.
"Pak, tolong jangan merokok ketika sedang mengemudi. Berbahaya bagi kendaraan yg di belakang." ucap saya sambil berteriak
Si bapak suantuy kayak di pantai bilang, "ya mbak salah sendiri ga sesuai aturan lalu lintas, pake helm kok kacanya dibuka"
Bapaknya berbicara samar, tapi saya yang mendengar rasanya mata jadi semakin merah, bukan karena sakit tapi karena geram. Tapi yasudahlah, mata saya lebih penting daripada ngeladenin bapak yang unyu sekali itu.
Padahal sudah ada ruangan sendiri untuk perokok, bukan berarti juga nonperokok suka dengan bau rokok. Padahal tidak cukup sulit juga untuk bilang, "kamu gapapa kalo aku ngerokok disini, nggak?" atau bilang "maaf ya aku ngerokok" pokoknya minimal izinlah (hanya ketika di ruangan. Kalo di jalan yaa plis jangan. Kalo keburu ingin ya menepi dulu".
Sebenarnya saya tidak menyukai orang yang merokok, tapi juga tidak membencinya. Tapi kalo merokok tidak pada tempatnya yaa beda lagi ceritanya hiks

Komentar
Posting Komentar