Ambis
Sumber gambar: id.pinterest.com
Baru-baru ini, kata ambis sedang ngetren di kalangan manusia-manusia normal (normalnya malas). Ambisius, yang lebih belakangan ini terjadi dan sering dilontarkan di dunia pendidikan.
"Oh, kamu anak ambis, ya?"
Saya kadang tidak tahu, bagian mana yang salah jika menjawab 'ya' ketika ada orang yang bertanya seperti itu dengan tawa sambil menyindir. Tidak ada yang berdosa dari berjuang keras penuh semangat mencapai sesuatu. Ini ambisi, bukan mengambil hak orang lain. Anak/orang yang ambis hanya berusaha memperjuangkan haknya. Ah, ini bukan kewajiban, sebab semua orang berhak menjadi cerdas. Iya cerdas, bukan pintar. Iya berhak, karena nggak semua merasa wajib menjadi cerdas.
Pernah beberapa kali mendengar cerita, yang amat sangat tidak lazim.
"Aku nggak suka, dia terlalu ambis. Mana kalo minta contekan dianya pelit lagi."
Sumber gambar: Webtoon Trickster
Hey sweetie, what are you talking about???
Usaha seseorang, yang barangkali dia bergadang sampai mimisan, lantas tidak tidur demi mendapatkan jawaban yang benar pun ditambah tidak makan berhari-hari (okey, bagian ini berlebihan). Tiba-tiba anak yang sepertimu tidak dekat tidak apa dengan dia, tidak mengucapkan salam dan tanpa akhlak-babibu bilang, "P, fotoin tugasmu mapel ini dong. Sumpah aku ga bisa. Tadi ada kerjaan, terus push rank. Jadi lupa kalo ada tugas. Ku tunggu ya."
Kalo saya dichat begini, ada halalnya saya ajak baku hantam, sih.. apalagi alasan kerja.. atau yang paling parah masalah keluarga. Entah itu orang tua bercerai, bertengkar, atau apapun itu.
Rasanya seperti (????) Kamu sehat? Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan tugas. Kerja itu urusan individu. Status kita masih pelajar bukan pegawai atau wiraswasta. Justru karena orang tua memiliki masalah, sebisa mungkin kita harus bisa mengurangi masalah itu, bukan malah memperluas masalah keluarga yang awalnya kecipak air menjadi lautan.
Sumber gambar: id.pinterest.com
Yuk, jangan menormalisasikan hal yang salah dan menyimpang. Tidak ada yang benar dari menyontek dan tidak ada yang salah dari ambis. Kita hanya perlu mereparasi otak saja agar tahu mana yang benar dan mana yang salah. BELAJAR ITU TIDAK AKAN PERNAH ADA RUGINYA. Saya belum pernah mendengar manusia tidak diuntungkan karena belajar. Jika kita tidak bisa bermanfaat bagi orang lain, setidaknya kita harus bermanfaat bagi diri sendiri.
Saya sering menulis ini di beberapa unggahan saya, dan akan saya tulis lagi. Lagi, dan lagi.
HIDUP SEKALI, HIDUPLAH YANG BERARTI



Keren tulisannya..
BalasHapus