Don't Judge by its Cover

 

31 Agustus 2019 kemarin, saya melakukan sebuah perjalanan sebab keperluan. Tidak jauh memang, saya sering melakukannya, namun perjalanan kali ini sungguh berkesan.

Sebenarnya ingin saya potret momen itu, namun waktu yang memburu tidak mendukung, saya harus melanjutkan perjalanan karena matahari akan bersembunyi.

Waktu itu saya berhenti di sebuah pom bensin, uang saya tinggal 15.000 rupiah, cukup untuk membeli bensin sampai titik maksimum. Antrian tidak begitu panjang, tapi orang-orang membeli banyak sehingga saya mengantri agak lama. Di depan saya, ada seorang pemuda, mungkin seumuran saya. Tampilannya bisa dibilang seperti berandalan, kaos lusuh berwarna putih dengan gambar tengkorak di depannya. Celana jeans robek-robek. Sandal gunung yang begitu kotor, sempurna dengan rambut acak-acakan dan telinga bertindik. Ia sedang menghitung uang untuk membeli bensin. Kemudian mengeluarkan seluruh uang dari sakunya, 15.000 rupiah. Dia membeli bensin, tapi hanya 12.000 rupiah. Saya melengos, paling tidak suka melihat orang-orang berpenampilan seperti itu.

Kemudian mata saya tidak sengaja menatap anak kecil tidak jauh dari orang-orang yang mengantri, menunggui barang dagangan, sepertinya miliknya. Sesekali saya lihat dia mengusap keringatnya yang jatuh di wajahnya menggunakan kerudung yang dia kenakan. Saya baca dengan teliti box yang ada di depannya, tulisannya;  susu sapi murni segar Rp2000.

Saya membatin, "kasihan". Ingin saya membeli, tapi uang saya tidak cukup.

Setelah saya membeli bensin, saya melihat pemuda yang di depan saya tadi membeli susu anak itu, dengan uang kembalian bensin yang dibelinya sesaat yang lalu, 3.000 rupiah.

Sayup-sayup saya dengar anak itu berkata, "Uangnya kelebihan mas. Sek."

"Wes, gawe awakmu ae" - udah, buat kamu aja.

"Suon mas" - makasih mas.

Sambil tersenyum, pemuda itu kemudian pergi dan meminum susu yang telah dibelinya dengan tangan satu, satunya lagi memegang setir.

Saya menghela nafas. Uang saya sama dengan uang pemuda itu. Tapi lihatlah, disaat saya hanya membatin kasihan dan merasa uang saya tidak cukup, dia yang saya tidak suka karena penampilan yang seperti berandalan bahkan memiliki hati yang lebih baik daripada saya.

Saya kembali melanjutkan perjalanan, kemudian menyadari satu hal. Ternyata saya lebih berandalan daripada pemuda tadi.

Cover tidaklah segalanya, bukan? Oleh karenanya, jangan tertipu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga

Delapan

Tujuh