Sepatu
Ini pertama kalinya pakai sepatu yang girly banget dengan pita-pita gemas dan ujung lancip banget yang saya sendiri bingung kenapa iya aja gitu pesan yang ini, wkw.
Tapi nggak apa, pumpung harganya murce. Kebetulan saya pecinta barang-barang murah soalnya, haha. Kayaknya nggak cuma saya aja, perempuan kalau lihat harga diskon pasti mata seperti ada bara apinya, padahal harga asli sama harga diskon terkadang tidak jauh berbeda. Harganya 30 ribuan yang saya lupa nominal pastinya berapa padahal belum ada satu bulan pakai ini (mohon maaf atas kepikunan yang menjengkelkan ini). Apalagi ditambah hujan lebat, yang sepatu karet ini bisa membuat hidup setidaknya lebih mudah.
Awalnya tentu saja menangis, bukan menangis dalam artian harfiah juga, sih, cuma ya itu... kalau tergesa dengan memakai sepatu ini rasanya sakit sekali. Akhirnya sempat selama satu pekan tidak menggunakan kaos kaki karena berpikir kalau sakit itu berasal dari 'kaki yang tidak muat', wkw. Tapi yang ada ternyata kaki semakin lecet-lecet. Permasalahannya bukan disitu ternyata (iyalah orang murah), kemudian saya akhirnya memutuskan menggunakan kaos kaki, lagi. Beberapa kali kalau tidak kuat melangkah karena sakit, sesekali saya berhenti kemudian baru melangkah lagi. Kenapa saya tidak membeli sepatu yang lain saja?
Karena sepatu saya masih sangat-sangat layak untuk digunakan dan ada banyak cara untuk mengakali agar tidak lecet.
Gara-gara sepatu ini, akhir-akhir ini saya sedang banyak berpikir tentang berbagai hal. Termasuk ketika pernah bentrok dengan beberapa pemikiran orang. Ah, memikirkannya sendiri kadang membuat menyesal. Andai waktu itu saya tidak terlalu idealis dan egois, pasti seperti saya menggunakan sepatu ini dengan kaos kaki. Andai waktu itu saya tidak terlalu pusing anggapan orang, pasti seperti kaki saya yang lecet tapi tak acuh dan sedikit mengeluh. Andai waktu itu saya tidak terlalu menggantung asa, pasti seperti saya menggunakan sepatu tanpa kaos kaki. Andai waktu itu saya tidak menyerah, pasti seperti saya berhenti sejenak dalam ketergesaan oleh kelecetan. Andai waktu itu saya tidak pemilih, pasti seperti saya tiba-tiba terbiasa dengan sepatu lancip yang dulu benar-benar benci.
Hidup memang begitu, ya. Betul kata beberapa orang, penyesalan itu selalu di akhir, jika di awal namanya pendaftaran.
Jadi, apa kabar kamu? Memupuk kenangan bersama, lantas tumbuh mati tanpa cahaya. Saya harap kabarmu baik-baik saja. Kamu yang berbalik arah atau memang saya pergi mengambil langkah? Ah, maafkan saya. Saya harap kamu benar-benar berubah seperti yang saya tahu dalam beberapa unggahanmu. Itu bagus. Kenangan menyakitkan kita berganti pada beberapa hal tentangmu yang menjadi orang baik.
*Jika pembaca berpikir ini tentang cinta lawan jenis, sudahi saja. Tidak semua tentang hidup harus berisi cinta-cintaan, bukan?
Komentar
Posting Komentar