Menengok Perjalanan Pendidikan Nasional
Pendidikan di Indonesia dimulai dari pendidikan zaman kolonial yang awalnya dikhususkan bagi orang Eropa dan sekolah-sekolah kabupaten yang hanya untuk mendidik calon-calon pegawai. Kemudian dilanjutkan pendidikan yang dikhususkan untuk pembantu perdagangan orang-orang Belanda dengan pengajaran sebatas pada keterampilan membaca, menulis, dan berhitung. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan sebelum era kemerdekaan hanya digunakan semata-mata untuk membantu perdagangan bangsa Belanda, dan hal ini tidak dijadikan permasalahan oleh rakyat Indonesia karena kekurangannya ilmu pengetahuan dan kurang pemahaman tentang pentingnya pendidikan sehingga rakyat-rakyat biasa tidak memahami hakikat pendidikan yang akhirnya menjadi budak bangsa-bangsa Belanda tanpa dapat melawan, yang mana secara jelas status dan intelektual yang dimiliki sangat berbeda.
Beberapa rakyat Indonesia yang melek akan pendidikan seperti pergerakan Budi Utomo yang dilakukannya melalui jalur politik, kemudian R.A. Kartini yang merasa bahwa pendidikan hanya diperbolehkan untuk laki-laki dan terciptalah emansipasi wanita sehingga banyak perempuan-perempuan yang dapat mengenyam pendidikan, kegiatan pemberontakan kebebasan mengenyam pendidikan iini kemudian dilanjutkan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam memperkenalkan pendidikan dan kebudayaan Indonesia dimana kedua hal ini menjadi satu kesatuan tonggak pendidikan Nasional sehingga bangsa Indonesia dapat mengenyam pendidikan berkat adanya sekolah-sekolah bumiputera, yang kemudian berdirilah taman siswa.
Pergerakan-pergerakan yang dilakukan oleh para pahlawan pendidikan menjadikan perubahan besar dalam peradaban bangsa Indonesia, tanpa para pahlawan pendidikan, bangsa Indonesia tidak akan menjadi seperti sekarang. Khususnya Ki Hadjar Dewantara, yang mengatakan dalam pidatonya bahwa bangsa Indonesia dapat memperkaya pengetahuan dengan mengembangkan pengetahuan dari negara lain namun tidak boleh lupa dengan pengetahuan (dalam konteks ini berarti kebudayaan) yang dianut oleh bangsa sendiri.
Pendidikan yang diperjuangkan oleh para pahlawan, menghantarkan kita pada pendidikan abad-21 yang tidak hanya mengedepankan intelektual saja, namun juga kebudayaan-kebudayaan bangsa yang tak lepas dari 4 ukuran, yakni sifat, bentuk, isi, serta irama. Sesuai dengan pemikiran para pahlawan, khususnya Ki Hadjar Dewantara bahwa bangsa Indonesia tidak boleh hanya memahami pendidikan secara intelektualis, materialis, dan kolonial seperti sistem pendidikan bangsa Barat sehingga kehilangan dasar-dasar nasionalnya, namun bangsa Indonesia harus memahami sejarah bangsa, kesenian, agama, pengetahuan, serta jasmani yang mana hal itu menuju ke arah kesatuan budaya (konvergensi) sehingga bangsa Indonesia tidak kehilangan identitasnya.
Melalui hal ini, saya menjadi lebih memahami dan menghormati sejarah pendidikan Bangsa Indonesia dimana pahlawan-pahlawan kita telah banyak berusaha memajukan bangsa Indonesia. Saya belajar bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara sangat luhur dan begitu memahami kondisi Indonesia di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang sehingga melalui pemikiran beliau, saya memahami bahwa budaya adalah hal yang penting dan menjadi satu kesatuan dengan pendidikan.

Komentar
Posting Komentar