Langkah Kecil untuk Terbiasa (bagian satu)

Ini hanya hari-hari biasa, tapi entah kenapa tiba-tiba introspeksi diri.
Iya, introspeksi. Bahasa lainnya wawas diri, hanya gara-gara satu notifikasi dari Google Photos tentang kenangan satu dan/atau dua tahun yang lalu.
Tiba-tiba foto-foto ketika saya pernah produktif terlihat satu persatu.
Sekali.
Dua kali.
Akhirnya menghela nafas juga.
Kenapa sekarang saya tidak begitu produktif?
Hari-hari hanya dihabiskan untuk scroll media sosial. Dulu, jika ada kesempatan (mencari kesempatan), saya langsung membuat apa saja yang bisa dipelajari. Benar kata orang-orang, membuat langkah kecil (sederhana) itu mudah memang, tidak untuk menjaganya tetap istiqomah. Padahal, langkah kecil itu memiliki orientasi terbiasa dan nyatanya 'terbiasa' yang diinginkan malah ditinggal.
Ada beberapa kesempatan dimana niat untuk menjadi istiqomah muncul secara tiba-tiba, dan berujung pada keistiqomahan yang impulsif. Namun, segala sesuatu yang mendadak seringnya tidak berakhir dengan baik (kecuali tahu bulat). Ujungnya merasa bosan. Diri sendiri memang patut untuk disalahkan.
Kemudian menemukan beberapa cuitan dari akun Twitter (sekarang bernama X) milik nawak-nawak di salah satu base, dengan isi kurang lebih sama.


Padahal, melakukan nanti atau sekarang pun tidak ada bedanya. Membaca balasan dari surat kaleng (menfess) yang dikirim oleh pengguna Twitter, membuat saya bercengkrama kembali dengan waktu. Sebenarnya, selama ini aku sibuk ngapain aja, sih?

Ternyata istiqomah itu gampang, cukup dengan tidak mengucapkan: ah, nanti duluntar deh; 5 menit lagi; ngepasin sampe jadi 00 deh menitnya.

*Kata Pandan yang satu ini sudah usang di draft (setahun lebih apabila kamu pemerhati tanggal dan tahun) , lantas saya publikasikan dengan sedikit menambah tanpa menyadurnya. Bukti bahwa ternyata saya juga tidak istiqomah dalam menyelesaikan konten tentang peristiqomahan, wkwk.😂🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga

Delapan

Tujuh