Delapan
Kamu selalu hilang pada puncak hujan.
Bagian ini aku selalu tak terlalu
paham, walau sudah merangkak dua tahun.
Tahun lalu, menjelang menutup buku meski belum begitu akhir.
Kamu dengan begitu percaya dirinya
bertanya sebab bertopeng; Halaman berapa jurang paling dalammu?
Meski aku tahu dibalik topeng itu
adalah kamu, aku berusaha menjawab dengan bercanda meski serius.
Pada halaman 200-an.
Aku tak yakin kamu memahami
maksudku, karena hadirmu seperti hujan, baik pada tahun ini maupun pada tahun
lalu.
Kala hujanmu yang pertama dengan
rintik-rintik, kamu bertanya; Apa itu aku pada halaman 200-an?
Aku tertawa, karena kamu begitu
yakin akan pentingnya hadirmu dalam hidupku.
Padahal, sudah kutegaskan bahwa kamu
adalah hujan. Aku merindu, namun tak ingin kebasahan.
Kujawab bukan, karena saat itu
hatiku pilu akan jahatnya dunia dan seisinya padaku.
Kamu bertanya sekali lagi, tak
yakin. Namun kujawab dengan perihal yang sama.
—
Puncak hujan tahun ini, kamu
memutuskan untuk menghilang lagi.
Entah mungkin karena sudah terlatih seperti
anjing yang tunduk pada tuannya, aku sudah tak menanyakan kabarmu.
Aku senang berteman denganmu hingga
menangis di depanmu sekalipun aku malu.
Aku senang berceloteh tentang hal
kecil yang aku tahu hingga kamu berusaha untuk tertarik dengan ceritaku, dan
selalu mengingatnya.
Aku senang memperlihatkan
kelemahanku padamu meskipun sebenarnya pada lainnya aku tak senang begitu.
Aku menyadari pada puncak hujan
tahun ini, tahun kedua.
Betapa dahsyatnya kata-kata;
Jadi, ada cerita apa hari ini?
Bentar lagi aku telepon, kamu
cerita, ya.
Aku pingin bantu kamu, kamu punya
potensi yang bagus.
Kamu hebat banget bisa berdiri di
titik ini.
Kamu kok nggak ada kurangnya, sih?
Kamu bodoh kalau kamu mau mengakhiri
hidupmu seperti ini, banyak banget yang sayang kamu.
Kamu keren bisa sedewasa ini di
umurmu yang masih muda. Kok bisa, sih?
Kamu kalau mau menyakiti dirimu
lagi, bilang aku, ya.
—
Kuingat kata-kata itu, sambil
menengok perjalanan dua tahun ini aku mengenalmu.
Aku sudah terlalu sibuk dengan
pekerjaanku.
Aku sudah terlalu sibuk membunuh
waktu.
Aku sudah terlalu sibuk mendalami
lelahku.
Aku sudah terlalu sibuk pada
sakit-sakitku menjelang akhir tahun ini.
Dunia selalu tak ramah, banyak
perbandingan dan penghakiman yang selalu tertuju padaku.
Aku memang butuh kamu untuk
memvalidasi rasa sakitku, namun ternyata itu tak lagi primer.
—
Ntah aku terluka atau tidak
sekarang, kuharap kamu selalu berbahagia pada setiap hilangmu.
Aku tak akan mencarimu lagi, karena
aku tak suka terlalu membutuhkan.
Aku tak akan berharap hujan datang
lagi, karena aku tak suka kebasahan.
—
Menjelang menutup buku meski belum
begitu akhir, tahun ini.
Pertanyaan; Halaman berapa jurang
paling dalammu?
Kutanyakan sendiri pada diamku.
Meski aku tahu, jawaban itu tak
berubah.
Selalu kutegaskan, dunia selalu tak
ramah, banyak perbandingan dan penghakiman yang selalu tertuju padaku.
Aku terlalu terluka untuk bertanya
mengapa dunia begitu keras padaku?
Berulang kali aku berusaha untuk
mencintai diriku dan seluruh hal yang terjadi padaku, yang akhirnya dijatuhkan
lagi.
Semoga kamu tak bertanya begitu lagi
suatu hari, meski aku berharap kamu tidak muncul kembali seperti hujan tahun
ini yang begitu sulit ditebak.
Aku cukup senang dengan keadaan kita yang berjalan di jalan yang berbeda, tanpa bertemu di persimpangan.
tetap semangat yaak 😁
BalasHapus