Postingan

Delapan

Kamu selalu hilang pada puncak hujan. Bagian ini aku selalu tak terlalu paham, walau sudah merangkak dua tahun. Tahun lalu, menjelang menutup buku meski belum begitu akhir. Kamu dengan begitu percaya dirinya bertanya sebab bertopeng; Halaman berapa jurang paling dalammu? Meski aku tahu dibalik topeng itu adalah kamu, aku berusaha menjawab dengan bercanda meski serius. Pada halaman 200-an. Aku tak yakin kamu memahami maksudku, karena hadirmu seperti hujan, baik pada tahun ini maupun pada tahun lalu. Kala hujanmu yang pertama dengan rintik-rintik, kamu bertanya; Apa itu aku pada halaman 200-an? Aku tertawa, karena kamu begitu yakin akan pentingnya hadirmu dalam hidupku. Padahal, sudah kutegaskan bahwa kamu adalah hujan. Aku merindu, namun tak ingin kebasahan. Kujawab bukan, karena saat itu hatiku pilu akan jahatnya dunia dan seisinya padaku. Kamu bertanya sekali lagi, tak yakin. Namun kujawab dengan perihal yang sama. — Puncak hujan tahun ini, kamu memutuskan untuk menghilang lagi. Entah...

Tujuh

  "Orang-orang itu selalu salah persepsi," kataku suatu ketika. "Bukannya kamu yang terlalu ambigu dalam merespon semuanya? Manusia, kan, bukan tercipta dari kode morse," dia membalas sambil bersungut, menatapku tak mengerti. "Lantas aku harus bagaimana?" tanyaku kemudian. "Bilang iya jika iya, dan bilang tidak jika tidak. Lihat? Seperti sekarang. Aku bilang lapar, maka kita makan," ia menunjuk sisa separuh nasi yang dimakannya, kemudian mengedikkan bahu, "yah, tapi manusia beragam, sih, karaktermu memang begitu. Ah, tapi aku kesal sekali! Kamu itu terlalu polos, ramah sama semua orang. Belum lagi kamu sungkanan. Untuk orang seperti aku yang sudah kenal kamu tidak setahun dua tahun, aku paham niatmu. Tapi kalau mereka baru bertemu denganmu sehari? Atau bahkan sejam? Kamu pikir dunia ini dihuni orang-orang berhusnudzan semua?" Aku tergelak, "Okey, baiklah. Kenapa kamu jadi marah-marah, sih?" Lagi-lagi ia mengedikkan b...

Enam

 Hei, apa kabar kamu? Kataku beberapa kali dalam ruang senyap. Acapkali kenangan-kenangan kita berdua menelisik dalam tiap gerakan. Pun afeksi dalam sanjungan yang sering tak sengaja keluar dari segaris senyummu. Atau bahkan telingamu yang selalu siap untuk mendengar celotehku yang tidak pernah penting. "Sedikit lagi aku dibuat gila olehmu, Puan," katanya suatu ketika. Aku diam, tak berani menjawab. "Sudahkah kamu mencintaiku, Puan?" katanya lagi. Dan aku masih diam.  Seringnya aku dengar wanita-wanita itu mengatakan, "Aku mencintainya karena dia yang pertama memperlakukan aku seperti ini," lantas aku tertawa. Beberapa kalinya mencibir. Berbaliklah perkataan itu pada beberapa logikaku. Aku tak percaya karma, tapi pengembalian perlakuan itu benar adanya. "Sudahkah kamu mencintaiku, Puan?" tegasnya lagi membuyarkan lamunanku. Ia melepaskan topi dan ditaruhnya di depan donat-donat berdandan itu. Badannya yang tinggi, tegap, dan hitam, sedikit membun...

Pendidikan dan Nilai Sosial Budaya di Indonesia Menurut KHD

Gambar
               Berbicara tentang pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara soal pendidikan memang tidak ada habisnya karena selalu menarik untuk diulas. Hal-hal pendidikan berikut juga konsep yang tak akan lekang oleh waktu. Sebelumnya, saya berpikir bahwa pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang sama. Bahwa pendidikan adalah pengajaran dan pengajaran adalah pendidikan. Namun, menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang berbeda dari segi arti dan tujuan Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup secara lahir dan batin. Sedangkan pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kata-kata yang penting untuk diingat adalah, “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan per...

Menengok Perjalanan Pendidikan Nasional

Gambar
                    Pendidikan di Indonesia dimulai dari pendidikan zaman kolonial yang awalnya dikhususkan bagi orang Eropa dan sekolah-sekolah kabupaten yang hanya untuk mendidik calon-calon pegawai. Kemudian dilanjutkan pendidikan yang dikhususkan untuk pembantu perdagangan orang-orang Belanda dengan pengajaran sebatas pada keterampilan membaca, menulis, dan berhitung. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan sebelum era kemerdekaan hanya digunakan semata-mata untuk membantu perdagangan bangsa Belanda, dan hal ini tidak dijadikan permasalahan oleh rakyat Indonesia karena kekurangannya ilmu pengetahuan dan kurang pemahaman tentang pentingnya pendidikan sehingga rakyat-rakyat biasa tidak memahami hakikat pendidikan yang akhirnya menjadi budak bangsa-bangsa Belanda tanpa dapat melawan, yang mana secara jelas status dan intelektual yang dimiliki sangat berbeda.            Beberapa rakyat Indonesia yang melek akan...

Langkah Kecil untuk Terbiasa (bagian satu)

Gambar
Ini hanya hari-hari biasa, tapi entah kenapa tiba-tiba introspeksi diri. Iya, introspeksi. Bahasa lainnya wawas diri, hanya gara-gara satu notifikasi dari Google Photos tentang kenangan satu dan/atau dua tahun yang lalu. Tiba-tiba foto-foto ketika saya pernah  produktif terlihat satu persatu. Sekali. Dua kali. Akhirnya menghela nafas juga. Kenapa sekarang saya tidak begitu produktif? Hari-hari hanya dihabiskan untuk scroll  media sosial. Dulu, jika ada kesempatan (mencari kesempatan), saya langsung membuat apa saja yang bisa dipelajari. Benar kata orang-orang, membuat langkah kecil (sederhana) itu mudah memang, tidak untuk menjaganya tetap istiqomah . Padahal, langkah kecil itu memiliki orientasi terbiasa dan nyatanya 'terbiasa' yang diinginkan malah ditinggal. Ada beberapa kesempatan dimana niat untuk menjadi istiqomah  muncul secara tiba-tiba, dan berujung pada keistiqomahan yang impulsif. Namun, segala sesuatu yang mendadak seringnya tidak berakhir dengan baik (kecu...

Lima

 "Kami sampai ujung jalan." "Bukan pohon?" "Terlalu dekat." "Bukannya melelahkan?" "Berjalan?" "Beriringan seperti ini." "Kami tersenyum, bukan?" "Aku juga." "Kebohongan itu," "Menyakitkan, bukan?" "Bagian ini tidak basah." "Lebih lagi rahasia." "Bagian itu tidak kering." "Kenapa?" "Kita harus berlari." "Jauh." "Pegang tangan." "Siapa?" "Pun." "Tanpa solusi." "Kamu melihat pohonnya." "Bukan ujung jalan?" "Duduk." "Bagian itu gelap." "Sebentar." "Tinggal?" "Kami tersenyum, bukan?" "Menyakitkan." "Bukan bohong." "Aku tahu." "Rahasia." "Maafkan aku." "Jauh?" "Perasaanku." "Solusinya tidak terbawa." "Salahku." "Kami tersenyum, buka...